Politik Al-Banna

Mencontoh Pendidikan Politik al-Banna

Oleh: ASQ

Siapa yang tidak tahu Hasan al-Banna? seorang pendakwah Mesir dan bahkan pendakwah dunia, yang selalu berdakwah menurut Alquran dan Assunnah. Hasan al-Banna memulai dakwahnya di warung kopi kota Ismailiyah setelah diusir  dari mesjid kota tersebut karena kecemburuan tetua mesjid yang merasa tersaingi dan kalah pamor dengan al-Banna. Padahal saat itu, warung-warung kopi di Ismailiyah dipadati oleh pemabuk, penjudi, penyair-penyai dengan petikan kecapi dan orang-orang biasa.

Awalnya al-Banna hanya duduk-duduk saja di sana. Lama sekali beliau mempelajari medan barunya itu. Ketika ada kesempatan, beliau tampil dengan membawakan kisah-kisah dan menyelipkannnya dengan nilai-nilai Islam. Lama-kelamaan, akhirnya al-Banna mulai mengalihkan ceritanya ke masalah-masalah akidah, cerita-cerita Rasulullah, sampai akhlak dan ibadah dengan menghindari tentang filsafat serta logika. Sampai suatu ketika, dia menyampaikan tentang wudhu, katanya “Barang siapa berwudhu kemudian shalat dua rakaat lalu menghadapkan hati sepenuhnya kepada Allah, niscaya dia akan memperoleh surga”. Tiba-tiba seorang pemabuk berdiri, sambil terhuyung dia berteriak dengan lantang “saya ingin shalat.” Lalu al-Banna meminta sahabatnya untuk mengantarkan pemabuk tersebut ke tempat wudhu dan mengajarkan bagaimana cara berwudhu. Sampai di tempat wudhu, si pemabuk muntah. Isi perutnya keluar dan pengaruh minuman keraspun hilang. Lalu sadarlah ia. Setelah berwudhu, diapun shalat. Seiring dengan waktu, pengajian warung kopi membludak. Akhirnya, al-Banna dan para penjahat yang sudah tobat itu berteman, mendirikan mushalla dan memakmurkannya (dikutip dari “Biarkan Cinta Menyapa” hal. 44 Dadang Kriswanto)

Lihatlah kisah ini wahai kawan-kawan yang dijuluki “Anak Mushalla” dan “Anak Kantin”. Betapa pedulinya al-Banna terhadap sesama, walau harus bergabung di warung kopi untuk mendakwahkan kebaikan dengan jalan damai. Namun sebaliknya, coba lihat apa yang terjadi diantara kalian, khususnya di kampus-kampus di Banda Aceh, kalian saling beradu argumentasi tentang sesuatu yang telah jelas kebenarannya, saling beradu politik, taktik, bahkan tidak jarang kalian saling beradu fisik. Kalau sudah begini, bagaimana kalian bisa membangga-banggakan bahwa kalian adalah agen perubahan, jika kalian sendiri adalah kanibal-kanibal yang berperang dengan sesama saudara kalian.

Lihatlah kawan, betapa al-Banna mencontohkan pendidikan politik Islami terhadap sesama muslim. Walau dia diusir dari mesjid oleh tetua mesjid, dia tidak membalas perbuatan mereka dengan merencana pengusiran terhadap mereka. Seasama orang Islam dia tidak saling menyerang, malah sebaliknya dia mengajak kelompok yang belum benar Islamnya untuk bersama-sama menjadi muslim sejati. Lihatlah kawan betapa al-Banna memberikan tuntunan politik yang sangat anggun untuk kita teladani.

Teknik-teknik politik:

  1. Mengamati
  2. Menjadi bagian target
  3. Mencari kesempatan untuk dikenal
  4. Melancarkan serangan (mempengaruhi/ mengajak0
  5. Memakai bahasa sesuai dengan tingkatan target
  6. Tidak melanggar kode etik agama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s